PKC PMII JATIM MENUJU PEMBUSUKAN:Mempertanyakan Independensi Kepemimpinan EDO



Surabaya, Jawa Timur, Dtik Informasi news.com, - Dinamika gerakan PKC PMII Jawa Timur hari ini berada dalam titik nadir paling kritis. Kegelisahan ini mulai muncul dan disuarakan oleh kader PMII Jawa Timur, Herdiansyah. Ia menilai bahwa, PKC PMII hari ini tidak melangkah dengan khittah dsn fitrahnya sebagai organisasi gerakan. 
Menurutnya PKC PMII di bawah kepemimpinan Edo, semakin menjauh dari cita-cita awalnya dengan visi yang tampak gagah yakin, "PMII Jawa Timur sebagai motor transformasi kader ahlussunnah waljamaah yang religius, inklusif, adaptif terjadap disrupsi digital serta pelopor keadilan sosial menuju i Indonesia Emas 2045", justru hari ini PKC tampak dibiarkan menjadi boneka kekuasaan dan partai politik.

"Sebuah organisasi gerakan mati bukan ketika sekretariatnya roboh, melainkan ketika idealisme di dalam dada para kadernya telah ditukar dan digadaikan dengan kompromi kekuasaan dan kepentingan politik sektoral", buka Herdiansyah. 

Menurut Herdiansyah, Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur tidak sedang mengalami dinamika biasa, ia sedang mengarang naskah kejatuhannya sendiri, merayap perlahan menuju pembusukan struktural dan moral di bawah kepemimpinan Edo yang justru lebih banyak melayani kepentingan politisi dan kekuasaan dibanding melakukan pengkaderan yang konsern terhadap kepentingan rakyat kecil.

"Ini kritik, bukan kebencian. Kita lihat beberapa kasusnya. Pertama, pasca gelombang aksi Agustus yang seharusnya menjadi panggung artikulasi perlawanan rakyat, Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur di bawah kepemimpinan Edo justru memperlihatkan manuver politik pragmatis yang menciderai independensi organisasi. 

Kita lihat sendiri, banyak cabang yang mempertanyakan dan kecewa. Kita tidak lagi hidup di dalam kebodohan, para kader hari ini sudah cerdas, sangat gampang membaca dinamikanya", lanjut Herdy

Dalam konteks ini, Herdy mempersoalkan aksi PMII Jawa Timur dalam menyampaikan poin-poin  Aksi massa pada Agustus lalu yang berakhir tanpa arah logis dan kehilangan taji substansial. Diduga terjadi kompromi di balik layar antara kepemimpinan PKC PMII Jatim dengan pimpinan eksekutif Jawa Timur. Herdy melihat ini sebagai bentuk pengkhianatan terhadap PMII 

"Hubungan kooptatif ini memandulkan fungsi kontrol sosial organisasi, menjadikan gerakan massa sekadar alat tawar-menawar politik kekuasaan daripada instrumen koreksi kebijakan", tegas Herdy.

Selain persoalan aksi Agustus, Herdy juga menyorot adanya intervensi partai politik di dalam tubuh PKC PMII Jawa Timur.

"Menurut keyakinan saya, terdapat indikasi kuat keterikatan struktural dan kultural PKC PMII Jatim terhadap agenda politik Partai. Ruang-ruang pengambilan keputusan organisasi kerap diintervensi oleh kepentingan partisan, yang pada akhirnya mereduksi PMII dari organisasi gerakan mahasiswa independen menjadi penyambung lidah kepentingan elektoral partai tertentu", yakini Herdy

"Ketua PKC PMII Jawa Timur bagi saya telah gagal mempertahankan garis otonomi organisasi. Posisi kepemimpinan hari ini tampak berfungsi tak lebih dari perpanjangan tangan kepentingan elite partai politik, mengorbankan integritas moral dan marwah independensi yang selama ini dititipkan oleh ribuan kader di Jawa Timur. Miris dan memalukan", tegas Herdy menyampaikan kekecewaannya.

Kepemimpinan Edo sebagai nahkoda PKC PMII Jatim hari ini mendapat sorotan tajam dari anggotanya. Ia bahkan dinilai tidak mampu menjadi pioner yang betul-betul dapat menentukan arah organisasi.
"Di tingkat internal, kegagalan kepemimpinan Edo tecermin dari ketidakmampuan membangun konsolidasi yang solid ke cabang-cabang se-Jawa Timur.

lebih lanjut Herdy  Ini terbukti ketika gelombang kekecewaan meluas dari berbagai Pengurus Cabang (PC) yang merasa dikhianati oleh arah kebijakan PKC yang dinilai transaksional. Jadi jelas, krisis kepercayaan ini menandai pecahnya soliditas PMII di Jawa Timur akibat gaya kepemimpinan yang minim arah strategis dan krisis keteladanan", lanjut Herdy memberikan kritik terhadap Edo.

Melihat kondisi tersebut, sebagai kader PMII di Jawa Timur, Herdy, menyerukan kepada seluruh kader se-Jawa Timur untuk bersama-sama berkomitmen mengembalikan PMII pada khittah organisasinya.

"PMII ini kan pada prinsipnya adalah benteng gerakan. Maka, gerakan harus terjamin independensinya, harus berani kritis, dan harus jelas keberpihakannya yakni berpihak penuh pada kepentingan rakyat, bukan pada elite kekuasaan", tutup Herdy dengan nada penuh kecewa.

Penulis : Red
Baca Juga

dibaca

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama