Sampang, Jawa Timur, Dtik informasi news.com – Bencana tidak pernah mengirimkan undangan sebelum datang. Ia bisa hadir ketika aktivitas pesantren sedang padat, saat santri tengah belajar, beribadah, beristirahat, bahkan ketika lingkungan sekitar sedang lengah.
Kesadaran inilah yang mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang mengambil langkah strategis dengan membawa edukasi kebencanaan langsung ke lingkungan pesantren pada Kamis (13/8/2026).
Pondok Pesantren (PP) At-Taroqi, Karongan, Desa Tanggumong, Kecamatan Sampang, menjadi lokasi pertama pelaksanaan Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA) di Kabupaten Sampang usai diterbitkannya Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 41505 Tahun 2025. PESTANA di PP At-Taroqi ini sekaligus menjadi yang pertama digelar di wilayah Korwil Madura.
Program ini bukan sekadar sosialisasi seremonial, melainkan pintu masuk untuk membangun budaya sadar risiko di lingkungan yang dihuni ratusan santri setiap harinya.
Kegiatan tersebut disambut hangat oleh keluarga besar PP At-Taroqi. Turut hadir Ustaz Fausi Qodir selaku perwakilan alumni, Ach. Fatoni, M.Pd. (Wakil Sekretaris DPP Ikatan Alumni At-Taroqi/IMTAQ), serta ratusan santri yang antusias mengikuti seluruh rangkaian acara.
Mendorong Kesiapsiagaan Mandiri di Pesantren
Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sampang, Ahmed Baso, menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak boleh hanya bergantung pada institusi pemerintah. Menurutnya, pesantren memiliki karakteristik khusus karena dihuni banyak orang dalam satu kawasan dengan aktivitas padat sepanjang hari.
Mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab BPBD. Santri, pengasuh, pengurus, dan seluruh warga pesantren harus memiliki pengetahuan dasar tentang bagaimana mengenali risiko, mencegah dampak, dan menyelamatkan diri ketika bencana terjadi,” ujar Ahmed.
Ahmed menambahkan, santri didorong untuk mampu mengenali potensi ancaman di sekitarnya, memahami jalur evakuasi, mengetahui titik kumpul, serta bertindak tepat saat situasi darurat.
Jangan sampai ketika bencana datang kita baru bertanya harus lari ke mana. Pengetahuan itu harus dibangun sebelum bencana terjadi. Harapannya, dari pesantren lahir kader-kader tangguh yang tidak panik dan mampu menjadi penyambung informasi kebencanaan kepada masyarakat,” tegasnya.
Santri Sebagai Agen Perubahan dan Solusi
Narasumber kegiatan, Aang Djunaidi, ST., MT., menilai langkah BPBD membawa pendidikan mitigasi langsung ke pesantren sangat krusial. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan keagamaan, melainkan komunitas besar yang strategis dalam membangun kesadaran bencana.
Aang menekankan bahwa dengan jumlah santri yang besar serta jaringan alumni yang luas hingga ke mancanegara, edukasi mitigasi ini berpotensi ditularkan ke lingkungan keluarga dan masyarakat luas.
Santri jangan hanya menjadi objek ketika terjadi bencana. Mereka harus dipersiapkan menjadi bagian dari solusi. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, santri bisa menjadi garda terdepan dalam membangun masyarakat yang tangguh bencana,”
pungkas Aang.
Simulasi Gempa Bumi Jadi Penutup
Program PESTANA di PP At-Taroqi ini diharapkan menjadi pemantik bagi pesantren-pesantren lain di Kabupaten Sampang untuk membangun sistem kesiapsiagaan secara mandiri. Sebab, dalam situasi darurat, orang pertama yang berada di lokasi penanganan adalah warga di lingkungan itu sendiri sebelum bantuan pemerintah tiba.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan simulasi bencana gempa bumi. Seluruh peserta dipraktikkan langsung cara merespons situasi darurat, mulai dari mengenali tanda bahaya, mengambil posisi perlindungan diri saat guncangan terjadi, hingga melakukan evakuasi secara tertib menuju titik kumpul yang aman.
Penulis : H. Saladin
dibaca
Posting Komentar